29 November 2006

It's proudly announced

Tadinya enggak pengen ngumumin ke teman-teman, tapi ada satu orang saja yang tahu ternyata beritanya langsung tersebar. Susah deh menyimpan kabar ini, karena menurutku masalah kehamilan adalah masalah pribadi gak perlu setiap orang dikasih tau. Cukup keluarga sedarah saja yang tau. Namun, akhirnya aku umumin di blog ini, udah terlanjur banyak yg tau di dunia nyata. It's proudly announced. Sekedar berbagi kebahagiaan dan emang excited banged kok.

Sebenarnya, kita udah bikin pregnancy planning setelah setahun menikah. Pregnancy planning isinya ya konsultasi ke dokter tentang peluang kita hamil. Tes darah, tes fisik tentu saja. Gaya banged deh, kata temen. Hihihi.... bukan gaya, pengen hamil sehat saja. Memastikan kita siap mental dan fisik.

Cowok apa cewek? belum tahu, insyaalloh bulan januari nanti baru di USG. kalo boleh pengen, aku pengen anak cowok. Doakan ya... semoga sehat, lancar dan sesuai harapan kami. Amin.

Sekarang udah mulai nyari-nyari nama. Hehe... terlalu cepat gak sih? Baru 9 minggu. Badanku aja belum ada perubahan banyak. Anyway, barangkali ada yg mau nyumbang ide nama.

Teraniaya Suguhan

Pertanyaannya: kurang ajarkah aku?

Aku kerja jadi tutor matematika. Salah satu muridku adalah keturunan Indonesia. Keluarga mereka udah resmi menjadi citizen negara Australia. Di rumah pun ngomong pake bahasa inggris, kadang-kadang aja si ibu-bapak pake bhs indo. Anak-anaknya gak fasih bhs indonesia, karena sejak kecil mereka tumbuh di negara berbahasa inggris ini. Budaya yang dikembangkan di rumah itu, kata si bapak, adalah budaya australia plus islam, begitu. Katanya budayanya beda dengan Indo. Kesan ini saya tangkap ketika si bapak sering bilang: ini di australia tante, bukan di indo.

Aku kalo datang tutorin si anak, pulangnya selalu dikasih makan, disediakan makanan yg kata dia ini spesial makanan dari negara ini dan itu dan sebagainya. Menurut dia, mungkin apa yang dilakukannya adalah menunjukkan dia itu orang baik, pemurah, ramah dan sebagainya. satu dua kali, aku gak bisa nolak. Suatu saat aku nolak dengan halus, maaf ngrepotin. Kata dia: enggak kok, ini sekalian dinner bareng kita. Suatu hari berikutnya: Maaf, saya tidak bisa stay di sini. Jawab dia: sebentar aja kok tante! Selanjutnya: Maaf, saya mau langsung pulang! apa kata dia: Lock the door In (panggilan utk anaknya), don't let tante go! Dalam hatiku, cih... gak sopan banged. Oke deh, kalo ini bercanda. Tapi please, bercanda macam apa ini? Apakah ini budaya australia yg dia bilang. Oke, satu dua kali gak pa pa. Tapi sekali lagi, please deh... suamiku nunggu di rumah untuk dinner bareng aku. setiap kali aku pergi sampe lebih jam 5 sore, aku rasanya pengen cepat pulang, ketemu suami. aku tahu, suamiku capek kerja. pengen aja nemeni dia. apa salah aku pengen cepat pulang? kontrak kerjaku kan cuma nge-lesi 2 jam aja! Dan hari-hari berikutnya, aku pun masih nolak. Aku bilang terus terang, aku mau pulang sudah ditunggu suami. Eh dia jawab apa? "Ditelpon aja disuruh makan di sini!" *gubrak!* menurut kamu dia orang baik? Sekali dua kali mungkin oke. Tapi, please... kita bukan orang yang kekurangan makan. Hidup kita bukan semata untuk makan. suamiku capek lah pulang kerja. aku juga capek. bayangan kita setelah kerja hanyalah istirahat, bergumul dengan keluarga atau pijet-pijetan. Tawaran itu sudah aku penuhin, terlalu sering enggak aku tolak atau tolakanku gagal. Menolak dengan halus, sudah seribu cara. Pelan-pelan aku dan suami merasa teraniaya.

Selain itu masalah kesehatan. Jujur. Ini mohon maaaaaaafff. Itu rumah: jorok! si bapak suka bersin sambil masak. Bener-bener tersiksaaaaa. Obat di meja makan itu sampe berplastik-plastik. Kita wonder: mereka ini penyakitan apa kok obatnya banyak banget. meskipun rasa masakan enak, pake a la negara ini dan itu, tapi.... arghhh..... tebak sendiri deh gimana rasanya nelen makanan yg gak jelas bebas ingus atau enggak. hiks... hiks... huaaaa...... huaaa...... Sayangnya, ini cuma uneg2 dalam hati. Aku gak berani nanya langsung ata dibikin bercanda sambil nyindir atau gimana. Hanya blog ini luapan hatiku tertulis. Aku gak mau makan kok dipaksa, dan itu berlangsung berbulan-bulan. Hitung berapa sendok udah aku telen, kalo seminggu aku tutorinn 2x. kadang lebih kalo menjelang exams. Hiks...hiks...

Dan akumulasi keteraniayaan itu pun, kemarin, aku ungkapkan. Beberapa kali aku bilang sebelum ngelesi, "maaf, nanti saya gak usah disiapkan makan atau disuguhi apa ya... saya mau langsung pulang". Gak mempan! masih aja dipaksa dan bilang ke anaknya kalo lesnya selesai: "In, lock the door! otherwise tante kabur." Kadang-kadang aku masih kenyang, masih saja dipaksa makan. Kadang-kadang aku lagi males makan, masih saja... hiks..hiks... Setiap selesai tutor tasku langsung tak jinjing dan aku udah berdiri pamitan tapi.... selalu saja dipaksa! dalam hati aku selalu berteriak: aku ingin pulaaaaang...

Suatu saat, aku datang si anak belum pulang sekolah. Eh si bapak bilang: "Ini tante dikasih makan aja dulu!" mak tratab atiku. Aku terganggu dengan kata-kata: dikasih makan. Aku mungkin lagi sensitif, PMS kali.... tapi, entahlah... I took it too personally!

Aku curhat ke suami. Sebenarnya dari dulu suamiku udah mengindikasikan kalo semacam ini akan jadi masalah. akan ada hutang budi atau apa. Oh ya, suamiku pernah nolak diundang makan karena suamiku capek mau istirahat di rumah. eh dia bilang apa? "Om ini kok gak mau diajak keluarga". jelas dong dengan lantang suamiku bilang: "Pak, jadi keluarga itu gak harus setiap kali makan bersama. Enggak pake diundang makan pun orang Indo yang di Australia saya anggap keluarga. Saya kan kemarin udah sering makan di tempat bapak, saya tidak bisa sering-sering pak, nanti bapak bangkrut lo. Maaf pak, saya capek kerja seminggu, saya mau istirahat." (kira-kira begitu, nada bicara suamiku agak soft dan dibuat sambil ngguyu2). Suamiku udah bilang dari dulu ke aku untuk berhenti aja karena ada sesuatu, udang di balik batu, dari sikap-sikap mereka. Kita tidak berburuk sangka, tapi memang sikap mereka sudah terlalu berlebihan. Menurut kami malah Jawa banged, bukan western.

Aku curhat ke tutornya sebelum aku. Dia bilang: "masalahnya simpel mbak. kalo berhenti, kasihan anaknya! dan menjadi tutor matematika kan udah profesimu" Dia juga diperlakukan sama seperti aku, tapi dia kan single, gak ada komitmen untuk buru-buru pulang. beda kasus. Benarkah simpel? Mungkin iya... tapi sekali lagi, aku teraniaya. Aku bahagia bisa jadi tutor matematika, iya profesiku. Tapi tidak untuk dipaksakan kehendakku.

Usul pindah tempat ngelesi juga udah pernah aku ajuin. Pindah ke bowen library (seperti aku ngelesi anak HSC yg lain), karena aku sibuk, save time dan sebagainya. hayaaaaah.... gagaaaaaaallll. aku gak bisa berargumen, cuma bisa bilang: ya sudah kalo gak boleh! Padahal si anak tutoring kimia juga di bowen library. Huh, kenapa aku gak boleh.

Akhirnya, muntub muntub sudah keinginanku untuk tidak makan di rumah itu. Sebelum berangkat aku telpon: "Maaf, saya tidak mau disuguhi makanan lagi kalo ngelesi. Kalo disiapkan suguhan, saya gak datang saja". Akhirnya, dia bilang "oh iya iya tante, enggak ya gak papa". bener aku berangkat, aku tidak dipaksa makan. Tidak ditawarin teh atau kopi. tidak dipaksa-paksa. Hanya air putih seperti biasa, yang aku minta. Hanya air putih saja.

Aku datang untuk kerja. Aku datang untuk menularkan ilmuku. Aku datang sekedar membantu anak kamu belajar matematika. Aku tidak datang untuk undangan makan dan aku tidak datang untuk dikasih makan. Kurang ajarkah aku menolak disediakan suguhan?

27 November 2006

Masakan Gak Enak

Semenjak pertengahan Ramadan lalu, rasa masakanku ga enak. Cuma resep sederhana juga rasanya kalo gak keasinan, kemanisan atau anyep. Bikin pasta/mi yang instan pun... hiks... gak enak!! Formula yang dipake sama. Alat masaknya juga sama. Kenapa ya.... :(

Sekali-kali nyoba resep baru. Udah nurut dengan resep loh, hasilnya masih saja kurang memuaskan. Terakhir bikin tiramisu. Tadinya udah merencanakan mau posting tentang bikin tiramisu ples fotonya. Karena gagal, gak jadi deh... Hasilnya lembek, enggak kentara lapisan-lapisannya dan rasanya terlalu kopi banget. Padahal tiramisu itu khusus untuk ulang tahun suamiku. hiks...

Alternatively, sekarang suamiku yang masak untuk kebutuhan sehari-hari. Aku menyiapkan bahan-bahan, dia yang ngasih bumbu, nyampur-nyampur dan masak. Cuma, menu kita jadi lebih sederhana. Kalo gak oseng-oseng, ayam goreng atau telur dadar (ceplok).

20 November 2006

Kok Sempat?

Pertanyaan itu yang selalu aku dapat kalo ketahuan aku kerja. "Kok sempat sih kerja?"

*menghela nafas*

Sodara-sodara, waktu itu relatif. Pasti sodara-sodara percaya kan bahwa waktu itu relatif. Jumlahnya tetap, 24 jam sehari, 60 menit per jam tapi ukuran itu menjadi relatif, menurutku, berkaitan dengan aktivitas kita, ruang gerak kita dan persepsi diri kita terhadap waktu itu sendiri. Aku lebih cenderung ke faktor terakhir, persepsi kita terhadap waktu atau lugasnya perasaan kita ketika menghabiskan waktu itu sendiri.

Intinya, kalo aku santai ya santai sekalian gak dapat apa-apa. Banyak santainya. ngalamunnya, jalan-jalannya. kosong, tidak berfikir. akibatnya, tugas numpuk di belakang. Merasa punya banyak waktu. Kalo aku sibuk ya sekalian sibuk dan justru aku produktif, cenderung menyelesaikan tugas dengan lebih awal. Merasa sibuk, tidak punya waktu.

Jadi, kok sempat kerja? Ya emang disempatin, biar produktif. Biar tubuhku aktif. Tapi anehnya, aku gak suka sibuk berorganisasi, atau ngumpul-ngumpul dengan sesama teman. Entah aku emang aneh, suka menghindar dari komunitas. Menjauh dari peer activities. Aku suka sak-penakku dewe. Aku yang membuat peraturan untuk diriku sendiri, termasuk peraturan mana yg mau aku ikutin. Waktu aku yang atur, kapan untuk sekolah, kerja dan keluarga. Aku emang egois, menyempatkan diri untuk kesibukan pribadi aja. Pribadi bukan hanya aku, tapi keluargaku. Meskipun aku sempat kerja di luar, sekolah, ngajar semuanya aku atur agar tidak mengganggu kehidupan keluarga. Saatnya kawin ya kawin. Saatnya punya anak ya punya anak. Gak bisa kawin atau punya anak ditunda setelah kerja (kaya) atau setelah lulus kuliah.

Jadi, kok sempat? kapan belajarnya, kapan ini kapan itu. Ya kapan aja, tinggal diatur. Siapa bilang yang single dan gak kerja, hasil belajarnya lebih oke. Gak selalu! Iya kan?

17 November 2006

No Longer Nightfiller

For a reason, my manager at coles broadway kindly gives me other job instead of nightfiller, who works at midnights. FYI, his initiative loh, I didn't ask. Since a day after I wrote my last post entitle tidur, I work as Morning Presso team, still under grocery department. It can be described as a display team. You know, at night, nightfiller fills the shelves but they just fill them with, not really arrange the things. Meanwhile, morning presso team works in the morning (start at 6 am, finish at 10 am) sorting and arranging the things such a way neat, attractive and help the customers reach them.

It sounds easy but not really for beginners. I spend almost four hours for one aisle (two side shelves). Fyuh! We are instructed to work quickly and perfectly. Ah...basbang deh! I am a little sebel with nightfillers sometime, because they do not place things on the right place or make the shelves messy.

This job would be challenging for me. I am happy with this job, not because it seems easy or do not need to lift up heavy boxes but because it is in the morning. Wallahu 'alam, I feel like Alloh helps me to recover my sleeping problem. Now, there is no reason for not sleeping at night. Even though it is still a bit hard, now I have been trying to sleep in the afternoon for a while after working and at early night.

So, I have a fantastic experience as a nightfiller for 3 days (12 hours) only. Now I am a morning presso one. A student, a math teacher, certainly. Not mainly for some more cash, but I feel better being a busy person by my way. What a life.

15 November 2006

Tidur

Aku sebetulnya suka tidur. Kalo tidur cepet, gampang dan betah banged. Sejak kecil aku terbiasa tidur siang dan malamnya tidur dari jam 9, paling lama jam 10. Sewaktu SMA, aku mulai tidur sampe tengah malam, tapi ah... cuma sampe jam 11 malam. Jaman kuliah pun aku masih suka tidur siang, barang cuma 2 jam, hehehe... secara aku ini gak bisa tidur cuma 1 jam. Tidur sebentar malah bikin kepala pening, mending ga tidur sekalian. :D

Sejak aku kerja, aku gak terbiasa tidur siang lagi. Tapi selalu mengusahakan tidur sebelum jam 10 malam. Tapi kalo hari libur, aku bisa tidur siang sampe 4 jam dan setelah bangun shubuh masih tidur lagi 2 jam. Paling tidak, tubuhku membutuhkan tidur sekitar 10 - 12 jam. Tidak aneh jika badanku bulet dan semok ya... hehehe...

Dulu aku suka ditegur kalo susah dibangunin atau suka tidur asal naruh badan. Juga ditegur kalo tidurnya kebanyakan. Gak sehat dan sebagainya. kapan belajarnya? Katanya juga, gimana nanti kalo punya suami dan anak? masak ditinggal tidur melulu! Hah... untungnya suamiku juga tukang tidur. Kalo weekend, setelah sholat shubuh kita bisa tidur lagi dan baru bangun jam 11 siang. Mandi dan makan. Nonton TV atau sekedar ngobrol selanjutnya tidur siang. Sore kita bangun, jalan-jalan ke luar sebentar... pulang, nonton atau nge-game dan tidur lagi. Atau, pagi jalan-jalan dulu, terus siang tidur dan seterusnya. Intinya, kita sama-sama tukang tidur. Klop deh! Tapi ini hanya terjadi di Australia, sejak kita punya unit sendiri. Gak punya tetangga apalagi sodara yang usil "ngomongin" di belakang. Dulu kita masih di Indo sering banget diomongin pemalas dan sebagainya. Tapi ah... dasar udah bawaan dari kecil, tubuh ini gak bisa kompromi kalo gak dimanjain di tempat tidur. Bagiku sih gak masalah dibilang pemalas karena banyak tidur, yang penting kerjaan beres kan. Dari pada gak tidur tapi kerjaan gak beres? Nah!

Cerita tentang di Australia lagi, selama hari kerja (weekdays). Kuliah kan by research, gak ada lab dan gak ada jam ngantor yang baku. Terserah, asalkan ada progression alias literature review jalan terus. Ikut kuliah juga cuma seminggu dua kali dan selalu sore hari. Pola tidurku, gila! Malam, suamiku selalu tidur lebih awal (jam 9) karena kerja pagi sampe sore. Mana tahan lihat orang tidur, aku biasanya ikut tidur. Tengah malam biasanya bangun kemudian hidup dengan komputer, atau tidur lagi kalo gak ada kerjaan. Jam 3 pagi mulai tidur, shubuh bangun nemeni suami siap-siap kerja dan setelah suami berangkat kerja aku tidur lagi sampe paling enggak kam 9 pagi. Sehingga kam 10 pagi aku baru mulai kerja, bener-bener kerja sampe sore kam 5 atau kadang jam 9 malam (pulang langsung tidur :)).

Sejak bulan puasa kemarin, aku mulai susah tidur. Seingatku, aku hanya 4 kali saja melewati malam Ramadhan dengan tidur, selebihnya aku gak pernah tidur malam. Aku selalu tidur setelah shubuh sampe jam 9 pagi saja. Akhir-akhir ini juga. Aku lebih sering tidur pagi selama weekdays. Tapi selama weekend, pola tidur tetep sama, molor teruuss... karena aku ma suami sama-sama di rumah gak kerja.

Aku cerita ke temanku, kenapa sekarang aku aneh. Gak suka tidur malam meskipun udah menguap-nguap, hanya tidur pagi saja dengan kepaksa sebagai bayaran belum tidur malam. Kata temenku aku stress. Aku pikir-pikir, aku tertekan oleh apa? Dari dulu kecemasan dalam hidupku ya itu-itu saja dan aku menjalaninya dengan cara yang tidak beda-beda banget. Beban hidupku selalu ada dan yah... aku begitu menyadarinya sebagai bagian hidup. Dan tidak merasakannya sebagai tekanan. Aku begitu menikmatinya. Mungkin tuntutan kerjaan, kata dia. Malah aku baru saja menyelesaikan literature review dan supervisor ngasih pujian ke kerjaanku, meskipun aku mempresentasikannya dengan beberapa kali (dan akhirnya masih gagal juga) melafalkan "heterogenously", It was funny, hiks! Yang penting kan bahasannya, anyways.

Kembali ke soal tidur. Aku menyadari berkurangnya jam tidur dan berubahnya pola tidur ini sejak musim dingin. Salah satu antisipasinya, aku nglamar kerja jadi nightfiller di jaringan supermarket terbesar di australia. Diterima boo... Bener-bener rencana gila! Aku sudah menjalaninya sejak seminggu yang lalu. Daripada malam hari nglakuin hidup yang gitu-gitu aja, aku pikir gak papa lah kerja malam. Suamiku bilang oke, asalkan jaga kesehatan. hehe... Mulai kerja jam 9 malam selesai jam 2 pagi. Untung, sekarang ini hidup di sydney. aman terkendali meskipun (keywordsnya) cewek, malam, berkerudung, sendiri, public buses.

Dari bekerja ini aku berharap aku capek dan pengen tidur. Tapi, tidur pagi pun masih aku paksa sebagai peringatan aku belum tidur dan aku harus tidur untuk kesehatan. Sudah dikelonin ama suami, masih aja susah tidur. Tidur siang apalagi, sudah gak jaman bagiku. Karena satu alasan tertentu, seharusnya sekarang ini aku harus banyak tidur seperti dulu, seperti yang biasa tubuhku minta. Karena ya seperti itulah tubuhku, minta banyak tidur. Namun, rasanya aku ingin selalu hidup. Apakah ini balasan aku dulu tidurnya lama? Apa salah dulu aku tidurnya lama? Apa ada yang nyumpahin aku ya? hiks.... atau mungkin gak sih perubahan hormon mempengaruhi pola tidur? Tapi hormon apa dulu tuh? atau kenapa ya... Kurang olah raga? masa sih! dari dulu aku gak pernah olah raga rutin kok. kenapa ya..... please... aku pengen tidur dalam kenikmatan. Ngorok dan pulas.

01 November 2006

Harapan Baru


.
.
Nasi kuning lagi
Syukuran lagi
Harapan lagi
.
Nasi kuning kali ini lebih nikmat, beda dengan nasi kuning sebelumnya
Bukan karena ada urap bayam, kering tempe/teri, dadar gulung dan ketimun
Tapi, karena "momen itu" terjadi di bulan suci Ramadan dan kita menghikmatinya di hari raya Idul Fitri [cuman baru sempat posting sekarang, ^_^]
Sungguh rasa syukur kita bertambah-tambah
.
Betapa bahagianya
Sejenak kita melupakan kerumitan masa
Mengumpulkan harapan baru
.
Semoga yang dicita-citakan terkabul
Amin
.
====================================================================