26 May 2010

Jazz Kenangan

Orang tua sangat mungkin mempengaruhi kuat lemahnya karakter seseorang. Misalnya, Mister LS, inisial dari nama sesungguhnya. Cerita ini nyata. Sejak kecil LS dekat dengan ibunya. Sampai berusian 40-an tahun pun, jika LS jauh dari ibunya, meskipun cuma semenit duamenit, LS rajin menelepon ibunya. Sampe-sampe ibunya nanya, ono opo nelpon meneh? Jawabnya, yo cuma nelpon pengen ruh suarane. Serta merta si ibu tertawa, heh..heh..heh...yuh biyuuh... nelpon kok saben dino. [kira-kira begitu]. Bukan ini yang mau diceritakan, sebetulnya.

Sekitar 30 atau 40 tahun lalu, cerita sesungguhnya. LS dan kembarannya, Mrs. LS (inisialnya sama :D) adalah anak terakhir di keluarga besarnya. Sejarahnya, kakak-kakaknya telah merantau ke kota besar, kebanyakan untuk menuntut ilmu. Bapaknya dengan gaji PNS tahun 80-an tidak bisa mencukupi semua kebutuhan. Ibunya, dengan tanah warisan yang cukup luas, bekerja keras menanam padi dan menjual hasilnya, terutama untuk menyekolahkan anak-anaknya. Hidup mereka di desa yang tidak begitu bagus airnya. Si kembar LS harus membantu ibunya, karena siapa lagi yang membantu kalo bukan mereka, secara kakak2 mereka sedang di luar kota.

Waktu itu, Mr. dan Mrs. LS kecil bertugas memandikan kerbau, cethik geni, mengangkat gabah, membawa beras ke pasar dan tugas-tugas di lapangan lainnya. Sepertihalnya anak-anak yang lain, katanya, mereka iri bisa bermain bebas, tidur bebas dan memilih makanan dengan bebas. Ibunya memang seringkali diceritakan sebagai orang yang galak. Mr. LS sering bercerita kalo dia sering dimarahi dan beneran dipukul kalo tidak melaksanakan tugasnya dengan sesuai keinginan. Ibunya, entah karena karakter atau karena kebutuhan, jika menjual beras, harganya 1000 rupiah ya 1000 rupiah. Ditawar serupiah-pun tidak akan diberikan. Kalo ada orang yang ngutang uang, hhhhh..... Demikian hari demi hari, Mr. LS tumbuh sebagai anak petani yang sibuk di sawah. Sekarang, keluarga Mr. LS sudah melampaui masa-masa sekolah dan masing-masing telah berkeluarga. Anaknya ada yang dokter, insinyur, ekonom, petani, maupun guru. Si ibu telah memetik hasil kerja kerasnya. Mr. LS sendiri menjadi insinyur dan bekerja dengan layak.

Suatu hari, Mr. LS ingin menjual mobil jazz yang dibelinya jreng dari uang tabungan yang disisihkan dari kerja kerasnya di luar negeri. Setelah mengadakan investigasi menyeluruh, dia memutuskan mobilnya pantas dijual seharga 125 juta rupiah. ssssttt.... padahal mobilnya cuma dibeli dengan harga sodara [bukan harga showroom] yaitu 75 juta rupiah. HP Mr. LS berdering pagi siang sore, tamu berdatangan untuk menanyakan si mobil. Bukan ini yang mau diceritakan sebenarnya.

Dibalik itu, Mr. LS secara tidak sadar, mungkin, berkarakter seperti ibunya. Keras dan tegas. Ya pak, begini kondisi mobilnya dan saya maunya harga sekian, begitu ujarnya berkali-kali kepada calon pembeli. Sayangnya, dia punya istri yang too soft. Ya udahlah pah, ditawar 1 juta aja dikasih aja, kan papa udah untung banyak, kata si istri. Akhirnya, jual beli terjadi dan transaksi di bank. Si pembeli membayar melalui 2 bank, di bank M, dibayar cash sekian, di bank B ditransfer sekian rupiah.

Pembayaran dilakukan di bank B terlebih dulu. Kemudian di bank M, eh... bisa-bisanya si pembeli nawar 500ribu dari harga yang sudah disepakati. Mr. LS menjawab dg santai: Pak, ini masih di bank, kalo bapak ga mau harga yang saya mau, saya kembalikan uangnya sekarang juga. Ruar biasa. Kalo yang ambil keputusan istrinya Mr. LS, pasti udah stupidly bilang, ya udah pak, ga pa pa, cuma 500ribu aja. Akhirnya, si pembeli akhirnya bayar full juga.

Berhari-hari setelah kejadian itu, Mr. LS masih membahas tentang harga jazz yang turun 1 juta rupiah dari yang diinginkan. Padahal, jika dihitung dari harga pembelian + maintanance costs, dia udah untung paling tidak 25 juta. Does 1 juta make a matter out of this 25 juta?

Kalo di-trackback, ibu Mr. LS termasuk pedagang yang sukses. Mr. LS pun dapat dikatakan sukses dalam penjualan mobil jazz itu. Mungkin karakter seperti itu yang diperlukan untuk menjadi sukses jadi pedagang, benarkah? Mr. LS dalam hal jual beli yang lainnya pun cukup teliti... hmmm... anyway, mobil jazz itu punya kenangan. Selain pernah crashed-out dengan parah oleh pemilik sebelum Mr. LS, juga dijual dengan proses yang menumbuhkan karakter yang impressive. Mr. LS kelihatan aslinya, dalam hal monitize.

25 May 2010

Uang Milyaran

Alhamdulillah bisa survive, tapi berangan-angan punya uang milyaran karena katanya dengan uang milyaran :
  • (1) bisa punya rumah dan mobil yang nyaman,
  • (2) bisa pergi haji dan mempergikan,
  • (3) tidak perlu menggadekan SK untuk nyekolahin anak, dll,
  • (4) sepertinya punya uang banyak enak, bisa ini dan itu,
  • (5) baca tagihan listrik, telpon, dll sambil merem, malah ga perlu baca: bayar ya bayar aja
  • (6) belanja ga usah mikir,
  • (7) mau jalan-jalan ya jalan-jalan aja, mau masak ga usah repot, gampang dang praktis, serba tersedia dan yang pasti tidur di kasur yang hangat dan empuk...
Cuma, kendalanya (1) harus kerja (2) harus kerja keras (3) harus kerja keras dan uangnya mesti dikumpulin supaya jadi milyaran (4) mesti sabar karena ga bisa langsung menikmati hasil kerja kecuali uang udah ngumpul, grgrgrgrrrrrr...

Kadang-kadang berangan-angan menjadi orang kaya tapi ga pake kerja, karena: (1) lahir sudah kaya (2) ga usah kerja, tetap kaya... (3) bermewah-mewahan juga tetap kaya... (4) uangnya bermilyar-milyar dan ga berkurang meskipun sudah dibagi-bagikan, dibelanjakan.... enak ya!!!

Makanya berangan-angan menjadikan seseorang tidak bersyukur, karena cuma melihat kekurangan diri-sendiri tanpa menyadari bahwa telah menerima banyak kelebihan. Kelebihan itu tidak selalu dalam bentuk materi, bisa dalam bentuk: (1) kesehatan (2) kesempatan (3) dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai, mengasihi dan membantu dalam kesedihan (4) mempunyai hati yang indah: dapat merasakan cinta kasih, dapat memaafkan dan dapat bersyukur. So, stop comparing... bersyukurlan sepanjang jalan. *membuangnafas.hhhhhh*

24 May 2010

22 Mei

Tuhan sesungguhnya telah menunjukkan tanda-tanda mana yang baik dan mana yang tidak bagi orang-orang yang berfikir. Namun kadang-kadang seorang manusia merasa lebih pintar dan hendak berpegang teguh pada pilihannya meskipun telah jelas ditunjukkan ketidakbenaran pilihan itu. Syukur akhirnya jika ia kembali pada jalan yang benar, meskipun buah-buah pahit terlanjur harus ditelan sebagai imbal baliknya. Maka dari itu, belajarlah dari pengalaman dan berfikirlah agar menjadi orang yang awas akan petunjuk-Nya. Hanya iman, percayalah hanya iman, yang memperkokoh daya fikir itu. Pupuklah iman selagi ada waktu dan jangan sampai kehabisan waktu.

Tanggal 22 Mei sudah berlalu, dua hari yang lalu. Sebuah tanggal yang selalu membuat berfikir dan menyesal. Pahitnya buah itu tidak bisa digambarkan seperti jamu temu ireng, pare, obat, atau pahit-pahitan yang lain. Karena rasanya bukan di pangkal lidah, tapi di relung hati. Hanya Tuhan yang Maha Mengetahui.

22 May 2010

forgotten vox

heeyy... my blog on vox still exists in the internet... totally forgot this one. Just visited there and was really amazed by photos I uploaded. Oh dear... what the power of internet. I even do not have anymore those photos in my live disk, they were stuck in my broken disk... The most astonishing was finding picture of us at Snowy Mountain... wo ho ho... also other pics which I look less-fatty. Love them so much! Seem I really had many good times in the past. *feel blessed*

lovable things

Okay... as usual... got bored reading this and writing for that paper. I should be knocked and yelled : “you will be embarrassed if you could not submit your paper after the submission deadline was two-week extended” *giggling*

Oh well...!! I hate this job sometimes. I love this job the other times. What’s this mean? Let’s me describe a bit.

Hanging around with paper-works, books, heavy back-pack and laptop as well as wearing glasses, does, sometimes, look smarter. However, when remembering that a little boy and a big guy are waiting for me in a small-unit, because they are lazy feeding themselves up, cleaning the playing-room or they just no longer could not match each other, then I feel guilty. I wanna run and safe the little boy before the worse happens... also when remembering taht the little boy needs my hugs... as well as remembering that my bed is so warm and comfy instead of the tough desk... this ends up to judge myself that I should only be a house-wife. I do aware that this is a job with extraordinary overwhelmingly 24/7 multitask, including cleaning up, laundry, cooking, preparing everything, fixing up everything, shopping, growing up baby (making it as well), and not to mention organising all in + out coming funds ($$$$).

Nevertheless, a passion of delivering knowledge I gained, assisting others to know this and that, being published, contributing to goodness, earning money, position, etcetera up to being worked-example of a great life resulted by hard-working for my kids are lovely things I wanna redeem. I’ve got the way to the right direction, if not wrong... I’ve got guardian (the big guy) and excellent supervisors, including supportive environment and scholarships. So, it might be worthy to say: this is hard boring job but lovable...

The choice has been pulled out. Perhaps, the other good option is that finishing what you have started. Tuhan tidak memberikan kesulitan yang hambanya tidak mampu menyelesaikannya. ^_+

Back to Sydney

I feel like have been hundreds years not visiting this blog... Oh dear... I miss hitting the ‘New Post’ button... How come I totally forgot this virtual home... this is a true love maybe. This blog was created when I first arrived in Sydney, four years ago. What? Four years sodara2... what a time!!!! I found in the posting history that the last writing in Sydney was in 2008 and the first post after be back in Jogja was in 2009. This means that the last two posts were a year apart. Then I probably kept it behind and started forgetting the blog while I was busying with lectures, etc. Oh yeah... I remember now that, even worse, I created another blog using the university weblog facility, here. Oh well... then I am back to Sydney and today the year is 2010...

My blog, I am back... love you... wanna give you a big hug... muwah muwah... I am amazed with my English writing which were awful... doesn’t matter... List of my old friends’ blogs also have astonished me... hah... I miss them, almost forget them all... but the more exciting is the writing about my son... I found the power of writing... (which helps me improve retention and brings me into past memories).

Pikir-pikir, apa ya yang membuat aku pikun? overwhelming-kah? hmm...