Dari hati terdalam, aku merasa sedih banged telah kehilangan Friendsku di Freindster ynag aku kumpulin sejak 2004. Aku kansel akun di Friendster (FS) bukan karena ingin menarik diri dari komunitas FS yang dinamis, tidak senang berteman atau sombong tidak mau punya teman lagi. Tapi... hiks...hiks.... huaaaaaaa.... huaaaaaa....... for a reason! again for a reason! Seperti balik jaman taliban lagi.... huaaa......... huaaaaa...... apa boleh buat, dari pada dosa. Padahal..... padahal.... padahaaaal...... hiks... hiks... hiks... sementara orang-orang baru pada daftar FS, aku malah nutup FS... sudahlaaahh.... ya sudaaaaaaahhh ya sudaaaaaaahhh...... bye bye FS...
18 December 2006
15 December 2006
Acknowledgement yang Mengganggu!
Seorang temen yang complicated, Elnamigo, ngaku bikin blog karena terinspirasi blogku. Sepertinya dia ni gak pernah ninggalin komen di blogku, mungkin silent reader. Terus apa dong yang bikin kamu terispirasi blogku? Keluguanku? Semrawutnya tulisanku? atau kacaunya grammarku?
Argh... bener2 acknowledgement yang mengganggu!
Anyway, ini ada bakwan jagung yang kemarin gak jadi tak-share ke kamu. Enak banget siiihh... keburu habis deh... kkk!
Argh... bener2 acknowledgement yang mengganggu!
Anyway, ini ada bakwan jagung yang kemarin gak jadi tak-share ke kamu. Enak banget siiihh... keburu habis deh... kkk!
Kalo mo bikin bakwan jagung, caranya mudah Migo. Kasih aja duit $10 ke aku, entar tak kasih selusin bakwan jagung deh... kkk!
dedicated to Migo, the silent reader ever!
Sambal Terasi Plus!
Gara-gara nausea aku pengen makan yang seger-seger melulu, termasuk yang pedas seperti sambal terasi plus. Bener-bener menggugah selera makan deh dan lupa kalo sedang hamil muda, hehehe... Kadang kalo makan cuma dikiiit banged, dengan lauk sambal terasi plus ini aku bisa nambah nasi hangat sampe dua kali. Duh! Membuatnya juga cukup mudah, less than 5 minutes. bahan utamanya adalah sambal terasi. Hari gini sambal terasi tu udah ada yang botolan, gak usah susah-susah uleg cabe, mampir ke Asian shop dan pilih SAMBAL ULEK TERASI HOT! ingat ya... yang "uleg" "terasi" "hot". pasalnya aku udah nyoba sambal jenis lain, rasanya gak mantabz.
Ada beberapa macam variasi menyajikan makanan yg menyegarkan ini, yang pasti adalah NASI PUTIH HANGAT. Cara menyajikan sambel:
Ada beberapa macam variasi menyajikan makanan yg menyegarkan ini, yang pasti adalah NASI PUTIH HANGAT. Cara menyajikan sambel:
- Panaskan wajan dengan sedikit minyak goreng. Ceplok sebutir telur sampe setengah matang tambahkan 1-2 sendok sambel ulek terasi dan sedikit garam. Stir occasionally and done!
- Panaskan wajan dengan minyak cukup. Goreng teri ukuran sedang (3-4cm) sampe setengah matang, sisihkan di pinggir wajan. Ceplok sebutir telur sampe setengah matang, aduk-aduk dengan teri tadi. Tambahkan 2-3 sendok sambel ulek terasi dan sedikit garam. Stir occasionally and done!
- Seperti nomor 2, tambahkan jagung butir setelah memasukkan sambal. (pilih corn cernel yang frozen, rendam dalam air sebelum dimasak)
- Goreng terung ungu yang dipotong memanjang dalam minyak (sampe terendam ya terungnya....). Tiriskan dan campur dengan sambal resep nomor 2.
- Tentunya masih banyak variasi yang lain....
Apa ya tips nya.....
- Memakai telur dan enggak, rasanya beda loh... aku lebih suka ada telurnya. Waktu menyeplok telur, jangan terlalu diaduk-aduk biar gak terlalu hancur.
- Lebih baik pake panas kompor medium aja dan setelah sambal dimasukkan ke wajan, matikan kompor supaya sambal tidak gosong. Kecuali jika pake resep nomor 3 dan 4, bisa ditunggu sebentar sampe sayur tercampur dengan baik.
- Aku lebih suka teri yang tidak diasinkan (unsalted dried anchor), garam bisa ditambahkan sendiri sesuai selera.
- Dari resep 1 s.d. 4, aku paling suka resep nomer 3. Campuran pedas (sambel), gurih (teri) dan manis (jagung) membuat air liur mengalir....
- Resep nomer 4 manis dan enak juga siiih... tapiii... minyaknya itu looh... Mungkin bisa dikurangi kalo terungnya tidak digoreng, yaitu dioven. Caranya, terung diolesi minyak olive/sayur aja seadanya... :) terus diletakkan di loyang dialasi kertas alumunium. Tapiii.... males banget ngidupin oven!
Namanya sambel ya pedes... meskipun menggugah selera makan dan menghilangkan nausea, aku cuma bertahan suka makanan ini satu minggu doang. Karena perut mules, aku gak mau dan gak selera makan sambel ini lagi. Tapi kalo lihat fotonya.... hhhmmm.... tetep ngences deh! hehe...
Perkedel Tahu
Well, indeed potato is commonly used for perkedel but white tofu (tahu) isn't less delicious for a recipe for perkedel. Using tofu is also less difficult since it is soft enough to be mashed (without peeling and boiling as well). Let's see how I make it.
base ingredient:
1 kgs tofu, mashed1
1 medium carrot, tiny cube cut
4 garlic cloves, minced (more if preferred)
4 shallots/2 spring onions, thin sliced (prefer spring onion including the green leaves)
salt and white pepper, as desired
2 large eggs, mixed with mashed tofu2
for frying:
2 large eggs, finely scrambled for dipping
vegetable oil
flavoured (choose one or mixed two):
1 cup chicken/beef mince
1 medium canned tuna (prefer the spicy one)
1 sausage, chopped
1 cup corn cernel
1 tbs chilli, minced
Let's make it:
- On a medium bowl, mix all the base ingredients together. Add preffered flavour and mix finely. Form perkedel into cake about 5 cm round and 1 cm thick with your hand.
- Pour oil about a half cm thick only on a medium preheated fry pan3.
- Dip perkedel into scrambled eggs and fry until golden on both two sides.
- Drain on towel paper.
- Served with warm soup would be a great appetizer.
Tips
1
I am used to using my finger instead of food processor. So it isn't too soft and some little chunks of tofu look fine for me.
2
The number of egg could depend on the amount of flavour added into based ingredient. If you think it cannot be formed into cake, just add one more egg.
3
Too much oil would be disaster for your perkedel, as well as too hot oil! Use fork or flat spoon to reverse perkedel.
14 December 2006
Api Lapindo
Foto ini dicopy tanpa ijin dari halaman detik.com, sekedar ingin merasakan keajaiban alam di halaman blog sendiri. Tidak untuk diperjualbelikan kok, maaf ya... udah nyomot foto, hihihi.... *innocent mode on*
Poligami
Prof. Quraish Shihab dalam buku berjudul "Perempuan", menegaskan "poligami adalah pintu darurat di pesawat, tidak dibuka kecuali emergency dan atas izin pilot".(dikutip dari berita antara)
Aku mencoba menganalisa makna "darurat" di kalimat itu tapi rasanya pikiranku kok dangkal banged ya... susah gitu maksudnya! Apakah poligami itu selalu dalam keadaan terpaksa (darurat)? Tidak terencana dan terorganisir? Bukankah seorang laki-laki yang menginginkan poligami karena suatu alasan (misalnya libido, keuangan, dsb), harus telah mencapai level keimanan tertentu sesuai yg dipersyaratkan dan untuk mencapai level ini perlu tahap belajar yang membutuhkan waktu. Level ini pun perlu bukti otentik dan pernyataan ikhlas dari istri. Mungkin ini yang dimaksud "izin pilot". Nah, posisi suami sebagai apa dong di kalo istri diibaratkan pilot? Sebagai penumpang kah? Hehe... emang posisi suami lebih sering numpang sih, aaah... pikiranku jadi ngeres! Udah dangkal, ngeres pula! Byuh... stupid kok ra uwis-uwis.... Memalukan! :(
Lanjut ah! Tidak hanya pihak suami yang harus belajar adil sedemikian sehingga memenuhi persyaratan poligami, pihak istri pun harus mencapai tahap ikhlas yang tinggi sebelum bisa dipoligami. Wanita kedua pun harusnya mencapai tahap ikhlas ini. Mungkin seperti itu idealnya. Kata "ikhlas" ini loh... kok menjadi kata yang "berat" bagiku ya... hiks! Rasanya aku gak mampu untuk mencapai level ikhlas yang tinggi itu. Dalam keseharian yang sederhana pun, entah aku mampu ikhlas atau enggak, emosi aja masih sering meledak-ledak. Sepertinya jelas aku gak mampu dipoligami. Namun masih banyak yang bisa dilakukan untuk mengganti sunnah poligami ini kok, masih banyak jalan menuju surga dan sepertinya lebih banyak dan aman.
Sekali lagi pikiranku terlalu dangkal untuk memahami makna poligami ini dan menggambarkan kehidupan orang-orang yang berpoligami. Kepala jadi kenyut-kenyut! Byuh...byuh...
11 December 2006
Distinction
Lagi-lagi nilaiku cuma Distinction (DN). Session ini lebih mending karena DN-nya gak nyebelin. Session kemarin emang nyebelin banged (temporary emotion though) karena nilaiku kurang satu poin aja udah High Distinction (HD). Btw, aku udah nyoba meningkatkan gaya menulisku di essay dan juga presentasi.
Selidik punya selidik, bagi lecturers-ku DN adalah reward to students who have "put and add something" into their study, as shown in the essay and presentation. In other words, instead of rewriting or just discussing what we have studied during the lecture, DN students are able to gather another resources with the lecture to develop such a new idea. However, asserting a new idea should be convinced with related research results and expert's arguments, as well as should be written in a well organised sentences. Nah, di sini aku masih punya kelemahan, terutama dalam mengorganisir arguments. My lecturer says in addition that I did some grammatical errors. Indeed, several paragraphs of my essay's awkward, terutama di bagian terakhir. Maklum, udah eneg ngedit tiap hari essay sepanjang 5000kata lebih. Seandainya gak ada kesalahan grammar, atau minim kesalahan, mungkin udah dapat HD.
Anyway, sudah lewat.... harus menjadi pelajaran! DN isn't bad kok. Horaaayy.... akhirnya bebas dari compulsory courses!
Selidik punya selidik, bagi lecturers-ku DN adalah reward to students who have "put and add something" into their study, as shown in the essay and presentation. In other words, instead of rewriting or just discussing what we have studied during the lecture, DN students are able to gather another resources with the lecture to develop such a new idea. However, asserting a new idea should be convinced with related research results and expert's arguments, as well as should be written in a well organised sentences. Nah, di sini aku masih punya kelemahan, terutama dalam mengorganisir arguments. My lecturer says in addition that I did some grammatical errors. Indeed, several paragraphs of my essay's awkward, terutama di bagian terakhir. Maklum, udah eneg ngedit tiap hari essay sepanjang 5000kata lebih. Seandainya gak ada kesalahan grammar, atau minim kesalahan, mungkin udah dapat HD.
Anyway, sudah lewat.... harus menjadi pelajaran! DN isn't bad kok. Horaaayy.... akhirnya bebas dari compulsory courses!
06 December 2006
Jaman Kos
Beberapa hari ini aku sering ingat jaman kuliah, khususnya kehidupanku selama di kos-kosan. Rasanya pengen kembali ke masa-masa yang menyenangkan. Terngiang juga masa-masa menyedihkan, yang ternyata bisa dilalui dan berlalu menjadi masa lalu.
Kuliahku dulu di Jogja, dan pertama kali aku menetap di kota itu tahun 1998. Jogja berjarak 5 jam dengan bus umum dari Kudus, kota kelahiranku. Aku tidak punya keluarga di Jogja, jadi aku harus nyewa kamar untuk bernanung, istilahnya ngekos.
Pertama kali ngekos, aku tinggal di kosan yg serumah dengan ibu kos, pemilik rumah. Dapur dan kamar mandi jadi satu. Kamar yg dikoskan juga cuma4 kamar. Rumah itu memang tidak besar apalagi megah. Dindingnya kusam, lantainya cuma diplester semen alias tidak berubin. Ibu kos adalah janda beranak 5. Pekerjaan tetapnya adalah sebagai tukang cuci, yg waktu itu masih manual banget. Uang tambahan diperoleh dari hasil menyewakan kamar, yg dibuat dengan hanya menyekat ruang tengah dengan triplek. Pintu kamar mandi hanyalah seng, yang kalo ditutup mak krrreket... Harga kos setahun (1998-1999) cuma Rp 450.000 fully furnished, dengan ongkos listrik Rp 3000 per bulan. AKu memilih ngekos di rumah ini hanya karena kamarnya terang dan harganya murah. that's it, tidak mempertimbangkan keamanan, kamar mandi, lantai, dinding, orang-orangnya, dsb. Tanpa cang cing cong langsung tembak.
Temen satu kos dan keluarga ibu kos adalah keluarga pertamaku di Jogja. Hubungan antara anak kos dan keluarga ibu kos lumayan akrab pada awalnya. Kita saling kenal dengan baik, bahkan ada temen kosku yg sampe kenal dekat dg anak bu kos. Oh ya, semua yang tinggal di rumah itu adalah cewek, dan umurnya hampir sebaya (kecuali ibu kos). Di kepalaku sekarang yg terngiang adalah satu demi satu peristiwa yg terjadi di masa itu. Nonton TV, nyuci bareng, makan bareng, ngobrol di teras rumah, tidur di kamar temen, pinjem-pinjeman sandal, ngutang, curhat tentang cowok, nungguin pak pos, ngantri di wartel, belajar semalam menjelang ujian, dsb. Wah kalo diceritain bisa sampe dua tahun... hehe... karena aku tinggak di rumah itu hanya dua tahun saja. Aku pindah, dan semua temen-temenku seangkatan juga pindah karena kita merasa tidak nyaman lagi dengan keluarga ibu kos. Karena suatu masalah yg kita sendiri tidak jelas. Kita dituduh ngerasani keluarga ibu kos, yg notabene ada salah satu anak ibu kos yg hamil di luar nikah... padahal sebenernya kita gak pernah ngrasani... wkatu itu kita ngobrol biasa aja, kumpul2 di kamar seperti biasa.... hiks.... Kami berlima: Titik, Lis, Eti, Yuyun dan aku. Akhirnya nyebar pindah kos sendiri-sendiri, kecuali Titik dan aku pindah ke rumah kos yg sama.
Kosanku yang kedua. Rumahnya agak mending, lantai berubin, sebagian keramik, besar dan terpisah antara kosan dan rumah induk (tapi bersebelahan). Gak kenal akrab dengan keluarga ibu kos, tapi akrab banged dengan anak kos lainnya yg kira2 15-an anak. Sampek ada iuran bulanan, jadwal piket nge-pel rumah ama bersihin kamar mandi, hal yg gak ada di kosanku yg lama. Lagi-lagi aku memilih rumah ini karena murah dan kamarnya terang oleh cahaya matahari. Murah dibandingkan harga kosan tahun itu (2000). Aku cuma mbayar Rp 600ribu setahun fully furnished. Tapi kamarku kecil, berukuran kira-kira 2.5 x 2.7 m. Cukup untuk satu orang saja, untung aku gak punya banyak barang, kecuali buku. Salah satu teman ada yg punya TV, di hari-hari tertentu kita sering nonton sinetron bareng. Seru deh. Masih ingat dulu jaman sinetron cerita cinta (atau apa ya??) yg dibintangi Tengku Frimansyah ama Cindy Fatikasari. backsongnya lagu Dewa dan sinetron/film yg lain. Yg seru juga kegiatan nyuci bareng, masak bareng, antri mandi, air habis numpang mandi di kos sebelah, pinjem-pinjeman sandal masih berlanjut, bakar jagung, ngerjain cowok, curhat, nangis-nangisan, ngerjain tugas bareng... oh ya, ada 3 orang temenku sekelas, sejurusan yg tinggal di kosan itu.
Personally, aku banyak mengalami perubahan. Dari rajin belajar menjadi agak rajin belajar, kebanyakan ngrumpi dan main, hehe... Dari punya pacar menjadi gak punya pacar. Di-pdkte-in ama cowok. Itu saja sih. Temen-temen di situ berkesan banget. Banyak yg suka curhat ama aku, karena aku kalo dicurhatin cuma ndengeriiiinnn terus dan gak tak ceritain ama orang lain. Ada dua orang temen yg ngekos sekamar. Keduanya saling konflik, yg satu begini dan yg satu begitu. Tapi gak berani negur, cuma pada diem-dieman. Tapi masing-masing curhat ama aku saling cerita si ini benini si itu begitu. Seru deh.... Ada yg curhat tentang cowok begini dan begitu. Padahal aku sendiri juga nangis-nangis darah sampe kurus karena putus ama pacar, padahal aku sendiri yg mutusin, hahaha.... Sebagian besar dari temen-temenku di kos ini udah pada lulus, kerja dan nikah. Seandainya bisa reuni, indahnya...
Aku pindah ke rumah kos ke-3 tahun 2002. Alasannya, harga kos naik dan temen dekatku Titik udah lulus. banyak temen2, mbak-mbak yg udah lulus juga. Kosan jadi kurang rame dan anak-anak baru kurang asik. Temen satu kosku juga ikut pindah dan kita kos sekamar berdua. Dia bernama Nisa. Nisa ini bener2 temen. Nisa, where are you now... I miss you so much! Ini orang paling penurut. Baik banget ama aku, tak suruh begini begitu nurut. Enggak protes. Aku marahin juga diam aja, paling senyum2 soalnya aku marah2nya gak mutu, hehe... Kadang2 agak manja sih ama aku... dan dia malesnya bukan main. Kamar kita bagi manjadi dua area, areaku dan dia. Di wilayah kekuasaan dia, fyuh... berantakan. Emang dia merasa nyaman dengan berantakan. Tur aku yo luweh wae, kalo aku berantakin tempat dia gak masalah... toh emang aslinya berantakan. Aku juga suka ngabisin jajan dia. hiks... dia kayak sodaraku. Bener2 deket. Aku lulus kuliah semasa di kos ini. Masih ingat dulu syukurannya, makan-makan ayam panggang masakan ibuku. Dibawain langsung dari Kudus, aku cuma nyiapin nasi, lalapan dan sambel. seru deh... rame banget. kata bapakku, kayak ayam dikasih jagung. hehehe... Terakhir ketemu Nisa waktu dia wisuda. Di hari wisudanya, dia tinggal di kosanku yang ke-lima. Oh ya, ceritanya dia lulus pendadaran langsung pulang kampung, dari pada di Jogja cuma nungguin wisuda. Aku yang merias dan nyiapin pakean wisudanya. Masih ingat, sebagai syukuran wisuda dia gak ngajak aku makan-makan apa gitu cuma beliin aku apel, alasannya biar aku diet. hehe...
Aku pindah kos yang keempat, karena adikku mau kuliah di Jogja. Jadi nyari kosan yg bisa sekamar dengan adikku. Kosanku yg keempat ini isinya anak-anak orang kaya (kecuali aku). Hampir semuanya anak UGM (kecuali aku dan adikku). Waktu itu aku udah cpek tinggal di ksan menyedihkan kali ya... Gak ada piket, soalnya ada pembantu yg bersihin sekitar kosa, fully furnishes kasurnya busa (biasanya kasur kapuk yg udah keras), ada kulkas, sekurity door, hehe... tapi harganya memang mahal, Rp 250ribu sebulan (tahun 2003). Aku udah kerja. Alhamdulillah affordable. Di kos pertama sampe ketiga aku, sebagian besar aku bayar sendiri juga sih tapi cuma dari beasiswa toyota astra yg lumayan (waktu itu). Oh ya, ingat nih... uang sakuku sebulan tahun 1998 cuma Rp 20ribu (mesti disisain untuk naik bis mudik RP 9rb). Percaya gak percaya. Paling banyak seumur-umur jaman kuliah dikasih orang tua adalah Rp 100rb dan itu sekali dua kali, malah aku gak tega ama orang tua. Aku hidup dari ngasih les matematika, beasiswa (sepanjang kuliah dapat beasiswa terus) dan hidup a la irit. namun, ini bukan mengeluh loh... aku bahagia menjadi seperti itu.
Di kosan keempat ini aku akrab dengan keluarga ibu kos. Ada mushola dan keluarga ibu kos ini rajin sholat jamaah. Selain itu anak-anaknya juga sebaya dan seangkatan. Makan bareng, fitness (cieh... udah bisa bayar ongkos), nonton TV, ngobrol dsb. Cuma aku merasa tua di kosan itu. yang ngekos kebanyakan anak-anak baru kuliah seumuran adikku. Aku paling ngobrol ama anaknya ibu kos yg seumuran, ama anak kos yg lain cuma sekedar kenal. Paling denger cerita ttg anak2 kos dari adikku aja. Lagian aku kerja, udah mulai sibuk. Temen-temen kuliah senagkatanku udah banyak yg lulus dan pulang ke kota masing-masing. hiks...hiks... kemudian aku pindah lagi karena eman-eman duit. Pengen nabung. Cuma bertahan 6 bulan saja di kosan ini. Tapi setelah pindah, aku masih akrab dan sering main ke rumah mereka juga.
Di kos kelima, jauuuuh dari kampus. Mesti naik bis kalo ke kampus. Harga kos emang lumayan murah, Rp 1,2juta setahun (2005). Kamarnya enak, bright and airy. Letaknya bersebelahan dengan rumah induk. Yang ngekos sedikit (4orang) dan pada sibuk kerja. yang aktif di kos cuma 3 orang, aku, adikku dan satu orang lagi namanya Harni. Mahasiswa. Tapi untuk biaya hidup, dia kerja bersihin rumah bu kos, nyuci pake mesin sih, nyetrika dan kadang-kadang masak. Harni ini juga baik ama aku. Kalo aku masuk angin, kerokan Harni ini mantab. Duh... kangen kerokan Harni.
Sebenernya di kosan terakhir ini suasanya sepi, gak seperti kosan sebelumnya. yang bikin rame cuma adikku aja. Gak ada piket, gak ada makan-makan, ngrumpi, dsb. Seperti ada sinyal bahwa sudah saatnya memulai hidup baru. Dan emang aku menikah setahun setelah tinggal di kosan ini, tahun 2006. Kehidupan baru dimulai. Sekarang aku masih tinggal di kos-kosan, tapi kosan yg sekarang beda. Seperti rumah sendiri, semuanya diatur sendiri mulai dari pasang telpon, listrik dan cari isinya. Bahkan pake tanda tangan kontrak segala. Kehidupannya bener2 individu. Aku enggak kenal temen satu kosku. Tidak ada acara bareng dengan temen satu building. Yup, kosan sekarang yg aku maksud adalah flat di sydney.
Kehidupan yang bergulir dan berubah. Jadi ingat kata orang bahwa tidak ada yang tetap dalam hidup ini, yang tetap adalah perubahan itu sendiri. Singkatnya, perubahan itu akan tetap terjadi. Seharusnya aku menyadari aku punya kehidupan yang bisa dipelajari, sehingga membuat perubahan yang berarti.
Anyway, ini postingan terpuanjangkuuuu..... menceritakan kehidupan selama 8 tahun yang lalu. Ini pun baru tentang pindah kos, belum satu per satu lembaran kisah hidupnya. Byuh...
Kuliahku dulu di Jogja, dan pertama kali aku menetap di kota itu tahun 1998. Jogja berjarak 5 jam dengan bus umum dari Kudus, kota kelahiranku. Aku tidak punya keluarga di Jogja, jadi aku harus nyewa kamar untuk bernanung, istilahnya ngekos.
Pertama kali ngekos, aku tinggal di kosan yg serumah dengan ibu kos, pemilik rumah. Dapur dan kamar mandi jadi satu. Kamar yg dikoskan juga cuma4 kamar. Rumah itu memang tidak besar apalagi megah. Dindingnya kusam, lantainya cuma diplester semen alias tidak berubin. Ibu kos adalah janda beranak 5. Pekerjaan tetapnya adalah sebagai tukang cuci, yg waktu itu masih manual banget. Uang tambahan diperoleh dari hasil menyewakan kamar, yg dibuat dengan hanya menyekat ruang tengah dengan triplek. Pintu kamar mandi hanyalah seng, yang kalo ditutup mak krrreket... Harga kos setahun (1998-1999) cuma Rp 450.000 fully furnished, dengan ongkos listrik Rp 3000 per bulan. AKu memilih ngekos di rumah ini hanya karena kamarnya terang dan harganya murah. that's it, tidak mempertimbangkan keamanan, kamar mandi, lantai, dinding, orang-orangnya, dsb. Tanpa cang cing cong langsung tembak.
Temen satu kos dan keluarga ibu kos adalah keluarga pertamaku di Jogja. Hubungan antara anak kos dan keluarga ibu kos lumayan akrab pada awalnya. Kita saling kenal dengan baik, bahkan ada temen kosku yg sampe kenal dekat dg anak bu kos. Oh ya, semua yang tinggal di rumah itu adalah cewek, dan umurnya hampir sebaya (kecuali ibu kos). Di kepalaku sekarang yg terngiang adalah satu demi satu peristiwa yg terjadi di masa itu. Nonton TV, nyuci bareng, makan bareng, ngobrol di teras rumah, tidur di kamar temen, pinjem-pinjeman sandal, ngutang, curhat tentang cowok, nungguin pak pos, ngantri di wartel, belajar semalam menjelang ujian, dsb. Wah kalo diceritain bisa sampe dua tahun... hehe... karena aku tinggak di rumah itu hanya dua tahun saja. Aku pindah, dan semua temen-temenku seangkatan juga pindah karena kita merasa tidak nyaman lagi dengan keluarga ibu kos. Karena suatu masalah yg kita sendiri tidak jelas. Kita dituduh ngerasani keluarga ibu kos, yg notabene ada salah satu anak ibu kos yg hamil di luar nikah... padahal sebenernya kita gak pernah ngrasani... wkatu itu kita ngobrol biasa aja, kumpul2 di kamar seperti biasa.... hiks.... Kami berlima: Titik, Lis, Eti, Yuyun dan aku. Akhirnya nyebar pindah kos sendiri-sendiri, kecuali Titik dan aku pindah ke rumah kos yg sama.
Kosanku yang kedua. Rumahnya agak mending, lantai berubin, sebagian keramik, besar dan terpisah antara kosan dan rumah induk (tapi bersebelahan). Gak kenal akrab dengan keluarga ibu kos, tapi akrab banged dengan anak kos lainnya yg kira2 15-an anak. Sampek ada iuran bulanan, jadwal piket nge-pel rumah ama bersihin kamar mandi, hal yg gak ada di kosanku yg lama. Lagi-lagi aku memilih rumah ini karena murah dan kamarnya terang oleh cahaya matahari. Murah dibandingkan harga kosan tahun itu (2000). Aku cuma mbayar Rp 600ribu setahun fully furnished. Tapi kamarku kecil, berukuran kira-kira 2.5 x 2.7 m. Cukup untuk satu orang saja, untung aku gak punya banyak barang, kecuali buku. Salah satu teman ada yg punya TV, di hari-hari tertentu kita sering nonton sinetron bareng. Seru deh. Masih ingat dulu jaman sinetron cerita cinta (atau apa ya??) yg dibintangi Tengku Frimansyah ama Cindy Fatikasari. backsongnya lagu Dewa dan sinetron/film yg lain. Yg seru juga kegiatan nyuci bareng, masak bareng, antri mandi, air habis numpang mandi di kos sebelah, pinjem-pinjeman sandal masih berlanjut, bakar jagung, ngerjain cowok, curhat, nangis-nangisan, ngerjain tugas bareng... oh ya, ada 3 orang temenku sekelas, sejurusan yg tinggal di kosan itu.
Personally, aku banyak mengalami perubahan. Dari rajin belajar menjadi agak rajin belajar, kebanyakan ngrumpi dan main, hehe... Dari punya pacar menjadi gak punya pacar. Di-pdkte-in ama cowok. Itu saja sih. Temen-temen di situ berkesan banget. Banyak yg suka curhat ama aku, karena aku kalo dicurhatin cuma ndengeriiiinnn terus dan gak tak ceritain ama orang lain. Ada dua orang temen yg ngekos sekamar. Keduanya saling konflik, yg satu begini dan yg satu begitu. Tapi gak berani negur, cuma pada diem-dieman. Tapi masing-masing curhat ama aku saling cerita si ini benini si itu begitu. Seru deh.... Ada yg curhat tentang cowok begini dan begitu. Padahal aku sendiri juga nangis-nangis darah sampe kurus karena putus ama pacar, padahal aku sendiri yg mutusin, hahaha.... Sebagian besar dari temen-temenku di kos ini udah pada lulus, kerja dan nikah. Seandainya bisa reuni, indahnya...
Aku pindah ke rumah kos ke-3 tahun 2002. Alasannya, harga kos naik dan temen dekatku Titik udah lulus. banyak temen2, mbak-mbak yg udah lulus juga. Kosan jadi kurang rame dan anak-anak baru kurang asik. Temen satu kosku juga ikut pindah dan kita kos sekamar berdua. Dia bernama Nisa. Nisa ini bener2 temen. Nisa, where are you now... I miss you so much! Ini orang paling penurut. Baik banget ama aku, tak suruh begini begitu nurut. Enggak protes. Aku marahin juga diam aja, paling senyum2 soalnya aku marah2nya gak mutu, hehe... Kadang2 agak manja sih ama aku... dan dia malesnya bukan main. Kamar kita bagi manjadi dua area, areaku dan dia. Di wilayah kekuasaan dia, fyuh... berantakan. Emang dia merasa nyaman dengan berantakan. Tur aku yo luweh wae, kalo aku berantakin tempat dia gak masalah... toh emang aslinya berantakan. Aku juga suka ngabisin jajan dia. hiks... dia kayak sodaraku. Bener2 deket. Aku lulus kuliah semasa di kos ini. Masih ingat dulu syukurannya, makan-makan ayam panggang masakan ibuku. Dibawain langsung dari Kudus, aku cuma nyiapin nasi, lalapan dan sambel. seru deh... rame banget. kata bapakku, kayak ayam dikasih jagung. hehehe... Terakhir ketemu Nisa waktu dia wisuda. Di hari wisudanya, dia tinggal di kosanku yang ke-lima. Oh ya, ceritanya dia lulus pendadaran langsung pulang kampung, dari pada di Jogja cuma nungguin wisuda. Aku yang merias dan nyiapin pakean wisudanya. Masih ingat, sebagai syukuran wisuda dia gak ngajak aku makan-makan apa gitu cuma beliin aku apel, alasannya biar aku diet. hehe...
Aku pindah kos yang keempat, karena adikku mau kuliah di Jogja. Jadi nyari kosan yg bisa sekamar dengan adikku. Kosanku yg keempat ini isinya anak-anak orang kaya (kecuali aku). Hampir semuanya anak UGM (kecuali aku dan adikku). Waktu itu aku udah cpek tinggal di ksan menyedihkan kali ya... Gak ada piket, soalnya ada pembantu yg bersihin sekitar kosa, fully furnishes kasurnya busa (biasanya kasur kapuk yg udah keras), ada kulkas, sekurity door, hehe... tapi harganya memang mahal, Rp 250ribu sebulan (tahun 2003). Aku udah kerja. Alhamdulillah affordable. Di kos pertama sampe ketiga aku, sebagian besar aku bayar sendiri juga sih tapi cuma dari beasiswa toyota astra yg lumayan (waktu itu). Oh ya, ingat nih... uang sakuku sebulan tahun 1998 cuma Rp 20ribu (mesti disisain untuk naik bis mudik RP 9rb). Percaya gak percaya. Paling banyak seumur-umur jaman kuliah dikasih orang tua adalah Rp 100rb dan itu sekali dua kali, malah aku gak tega ama orang tua. Aku hidup dari ngasih les matematika, beasiswa (sepanjang kuliah dapat beasiswa terus) dan hidup a la irit. namun, ini bukan mengeluh loh... aku bahagia menjadi seperti itu.
Di kosan keempat ini aku akrab dengan keluarga ibu kos. Ada mushola dan keluarga ibu kos ini rajin sholat jamaah. Selain itu anak-anaknya juga sebaya dan seangkatan. Makan bareng, fitness (cieh... udah bisa bayar ongkos), nonton TV, ngobrol dsb. Cuma aku merasa tua di kosan itu. yang ngekos kebanyakan anak-anak baru kuliah seumuran adikku. Aku paling ngobrol ama anaknya ibu kos yg seumuran, ama anak kos yg lain cuma sekedar kenal. Paling denger cerita ttg anak2 kos dari adikku aja. Lagian aku kerja, udah mulai sibuk. Temen-temen kuliah senagkatanku udah banyak yg lulus dan pulang ke kota masing-masing. hiks...hiks... kemudian aku pindah lagi karena eman-eman duit. Pengen nabung. Cuma bertahan 6 bulan saja di kosan ini. Tapi setelah pindah, aku masih akrab dan sering main ke rumah mereka juga.
Di kos kelima, jauuuuh dari kampus. Mesti naik bis kalo ke kampus. Harga kos emang lumayan murah, Rp 1,2juta setahun (2005). Kamarnya enak, bright and airy. Letaknya bersebelahan dengan rumah induk. Yang ngekos sedikit (4orang) dan pada sibuk kerja. yang aktif di kos cuma 3 orang, aku, adikku dan satu orang lagi namanya Harni. Mahasiswa. Tapi untuk biaya hidup, dia kerja bersihin rumah bu kos, nyuci pake mesin sih, nyetrika dan kadang-kadang masak. Harni ini juga baik ama aku. Kalo aku masuk angin, kerokan Harni ini mantab. Duh... kangen kerokan Harni.
Sebenernya di kosan terakhir ini suasanya sepi, gak seperti kosan sebelumnya. yang bikin rame cuma adikku aja. Gak ada piket, gak ada makan-makan, ngrumpi, dsb. Seperti ada sinyal bahwa sudah saatnya memulai hidup baru. Dan emang aku menikah setahun setelah tinggal di kosan ini, tahun 2006. Kehidupan baru dimulai. Sekarang aku masih tinggal di kos-kosan, tapi kosan yg sekarang beda. Seperti rumah sendiri, semuanya diatur sendiri mulai dari pasang telpon, listrik dan cari isinya. Bahkan pake tanda tangan kontrak segala. Kehidupannya bener2 individu. Aku enggak kenal temen satu kosku. Tidak ada acara bareng dengan temen satu building. Yup, kosan sekarang yg aku maksud adalah flat di sydney.
Kehidupan yang bergulir dan berubah. Jadi ingat kata orang bahwa tidak ada yang tetap dalam hidup ini, yang tetap adalah perubahan itu sendiri. Singkatnya, perubahan itu akan tetap terjadi. Seharusnya aku menyadari aku punya kehidupan yang bisa dipelajari, sehingga membuat perubahan yang berarti.
Anyway, ini postingan terpuanjangkuuuu..... menceritakan kehidupan selama 8 tahun yang lalu. Ini pun baru tentang pindah kos, belum satu per satu lembaran kisah hidupnya. Byuh...
Subscribe to:
Posts (Atom)