30 November 2012

Běijīng zhī xíng


Ni-hao! Beberapa hari yang lalu saya mengikuti konferensi internasional mengenai pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics) di Beijing China. Sejak awal saya tidak kuatir mengenai komunikasi, meskipun saya tidak bisa berbahasa Mandarin. Toh konferensi itu dihadiri oleh kalangan internasional dan bahasa inggris dipilih sebagai bahasa resmi di konferensi itu. Saya yakin, dengan pengalaman berbahasa inggris selama ini, saya akan survive. Selain itu, saya akan ke Beijing. Beijing yang saya bayangkan adalah kota besar dan orang-orangnya bertaraf internasional –yah paling tidak bisa bahasa inggris sedikit-sedikit. Setidaknya beberapa teman mengatakan hal ini sebelum keberangkatan.

Benar, saya survive selama presentasi dan mengikuti kegiatan-kegiatan di konferensi, termasuk ketika coffee break, lunch atau dinner. Tapi masalah itu mulai terasa ketika saya harus berkomunikasi dengan sopir taxi, pegawai hotel, pelayan toko atau restoran yang merupakan native chinese dan tidak bisa berbahasa inggris sama sekali kecuali thank you, okay dan sorry. Saya juga menemui masalah komunikasi dengan beberapa mahasiswa yang terlibat sebagai panitia konferensi. Meskipun mahasiswa ini berbahasa inggris, tapi seperti saya, pengucapan bahasa inggrisnya diwarnai dengan dialek bahasa pertama. Sehinga kami sama-sama bingung.

Dari ide seorang sahabat, mbak Dyah, saya mempersiapkan kartu-kartu bertuliskan percakapan sehari-hari bahasa inggris dan mandarin, berikut pinyin-nya. Seorang teman peneliti dari China membantu membuat translasinya. Bodohnya saya, sesampai di Beijing dan ketika harus berkomunikasi dengan mereka, saya lupa kalau punya kartu ini. Saya hanya bilang: “mm.. speak english, speak english?” dan untungnya merenka ngerti kemudian memanggil temannya yang ngerti bahasa inggris.

Kemudian ketika saya keluar hotel, eh… kartunya ketinggalan. Bismillah, begitu ucap saya dalam hati. Satu saat, saya ingin berfoto di depan sebuah patung. Sudah coba berkali-kali foto sendiri, hasilnya kurang memuaskan. Ada seorang perempuan muda melewati saya dengan headphone di telinganya sambil memainkan iphone-nya. Saya bilang, “excuse me, could you please take a photo for me.” Dia hanya melongo, saya sekali lagi bilang “mmm…. Photo, photo” sambil menunjuk jari ke wajah saya dan camera di  iphone saya. Eh dianya malah ngacir sampil melambaikan tangannya seperti mengatakan tidak. Mungkin dia pikir saya mau mengajak dia photo. 

Ketika berbincang dengan seorang mahasiswa atau dosen (bertitel doktor) yang kental sekali Chinglish-nya, saya diminta menuliskan apa yang saya maksud di selembar kertas. Hingga akhirnya paham yang saya maksud dan kami pun sama-sama tersenyum. Kemudian saya beberapa kali menggunakan teknik ini untuk berkomunikasi jika mereka tidak paham atau saya tidak paham yang kami maksud.

Akhirnya, saya mendapatkan sebuah ide brilian dari penjaga toko souvenir di hotel tempat saya tinggal. Waktu itu saya menanyakan harga sebuah porceline khas China, white and blue. Naluri tawar menawar saya muncul, tapi saya tidak tahu menyampaikannya. Si penjaga toko juga merasa ingin meyakinkan saya tapi tidak tahu menyampaikannya. Tiba-tiba dia membuka Google Chrome di PC nya, mengetikkan sesuatu di Google translate dan memperlihatkannya kepada saya. Miracle! Kami pun tawar menawar harga melalui media itu, tak lupa memakai jurus melas sebagai seorang mahasiswa yang jobless. Selain itu, saya juga mendapatkan penjelasan mengenai makna warna, bunga dan tulisan fu di blue and white ceramics khas yang dia pajang.

Saya baru ingat, bukankah saya bisa akses Google translate di iphone. Kenapa dari awal saya tidak menginstal kamus English – Chinese di iphone juga, bukankah akan lebih mudah. Yah demikianlah… tak perlu disesali. Saya berhak belajar dari siapa saja dan itulah kenikmatan memahami keterbatasan. Semenjak itu, saya menggunakan Google translate untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri saya. Dengan sopir taxi, saya ketik dulu saya mau apa kemudian tinggal klik, google akan mengucapkannya kepada dia atau saya coba membacanya. Masih ingat betul saya ketika saya mengatakan “very big” dalam bahasa china “Fēicháng dà” dengan aksen Indonesia saya menjadi “fii-cang da”. Sopir taxi yang menemani saya membetulkan cara membaca saya yang salah, harusnya “fi-tjang da” dan berulang ulang dia melafalkan “da” sampai saya bisa melafalkannya seperti “da” dengan lafal “d” yang berat seperti “dal” dalam bahasa arab. 

Saya selalu tersenyum jika ingat berbagai kejadian lucu terkait bahasa ini. Saya bersyukur saya masih seperti dulu, memahami keterbatasan, selalu ingin belajar dan tidak putus asa. Anyway, xiè xiè Google translate. :-)

Catatan: Běijīng zhī xíng : The trip to Beijing: Perjalanan ke Beijing

09 October 2012

Suami-suami yang tersenyum geli


Sambil minta kelon, Firna curhat kepada suaminya. Dia melepaskan keluh kesah, capek dan stress yang dirasakannya. Firna berkata, “say, seandainya aku bisa seperti Dea. Hidupnya enak ya... Tiap hari cuma ngantar anak sekolah, itu pun kadang suaminya yang ngantar. Terus masak, bentar-bentar ngurus taman, main game online, facebookan, instagraman, nge-date, jalan-jalan ke sini ke sana. Terus sama ibu-ibu ngumpul bikin kue bareng, jogging, latihan make-up, pengajian atau duduk-duduk di cafe. Ga perlu mikirin kerjaan, ga punya deadline yang bikin stress, ga ngurusi orang-orang yang bikin sebel di kerjaan, ga perlu jalan buru-buru ke sini, ke sana. Ga perlu pulang kerja ga bisa langsung istirahat. Bisa spa, medicure pedicure setiap saat... Enak ya....” Kemudian Firna menghela nafas dalam. Memang, dalam pandangan Firna, Dea adalah sosok yang bisa menikmati hidup dengan nikmatnya nikmat. 
                                                                                
Dengan santai, suami Firna menjawab, “bener say, kamu mau berhenti kerja dan jadi ibu rumah tangga saja? Cuma di rumah tok seperti Dea? Tidak peduli tentang isu-isu di negara kita? Ga pengen lagi penelitian? Ga pengen lagi membuat teori? Ga pengen lagi jadi guru? Ga pengen lagi ngajar? Ga pengen lagi punya uang tabungan sendiri? Ga pengen lagi jadi barista? Ga pengen punya tabungan sendiri? Ga pengen lagi bisa ngasih uang ke orang tua dan menyumbang ke panti? Ga pengen lagi bebas belanja? Ya gapapa sih, terus kamu mau ngapain di rumah?” Anehnya, Firna tidak bisa langsung menjawab pertanyaan suaminya. Dalam hati, justru dia cenderung menjawab tidak atau tidak tahu. Meskipun protes, Firna tidak mau begitu saja melepaskan aktivitas yang telah dia jalani selama ini. Malahan, Firna berbalik mengatakan bahwa meskipun ibu rumah tangga dan berkarir yang melelahkan, namun banyak juga kok hal positif yang bisa dia hasilkan. Satu per satu Firna menyebutkannya. Suaminya tersenyum geli.

Di lain rumah, Dea sedang protes kepada suaminya. Katanya dia bosen dan stress di rumah. Aktivitas yang dia jalani seperti palsu dan tidak penting. Cuma ngafe, pengajian, nge-gym, masak bareng, facebookan, dan gak penting lainnya. Dia pengen punya karir seperti Firna. Lanjut lagi, dia menjelaskan ke suaminya bahwa dia mempunyai aspirasi untuk berkontribusi ke kemajuan bangsa... tidak sekedar sebagai orang penting di keluarganya saja. Dea memberi contoh Firna kepada suaminya. Memang, dalam pandangan Dea adalah wanita yang sempurna. Mempunyai karir, bisa mengasuh keluarga dan disayang suami dan keluarga. Dea mengatakan betapa hebatnya Firna dan menghela nafas dalam mengakhiri protesnya. 

Dengan santai, suami Dea menjawab, “Benar kamu mau mencari pekerjaan? Kamu sudah siap, pagi jam 7 sudah siap, sore jam 6 baru sampai rumah, mesti lari ke sini ke sana ngantar jemput anak sekolah? masih ngurusi masak dan keperluan rumah? Kamu mungkin ga punya waktu lagi untuk nge-gym 3x seminggu? Mungkin jarang-jarang bisa liburan? Masih ingat dulu betapa stressnya kamu ngurusi kantor dengan segala isunya? Sudah siap? Ya gapapa kalau kamu mau menanggung semua konsekuensi karir, menjadi ibu dan istri". Anehnya, Dea tidak bisa langsung menjawab pertanyaan suaminya. Dalam hati, justru dia cenderung menjawab tidak atau tidak tahu. Meskipun protes, Dea tidak mau begitu saja melepaskan aktivitas yang telah dia jalani selama ini. Malahan, Dea berbalik mengatakan bahwa meskipun ibu rumah tangga dan aktivitasnya serasa ga penting, namun banyak juga kok hal positif yang bisa dia kerjakan. Satu per satu Dea menyebutkannya. Suaminya pun tersenyum geli.

03 October 2012

Alma dan Brian: Disiplin


Pagi itu, Alma tergopoh-gopoh berangkat bekerja. Meskipun hanya bekerja sebagai penjaga toko, dia sangat disiplin. Seringkali rela merogoh kantongnya yang tipis untuk naik taksi menuju tempat kerjanya supaya tidak terlambat. Pagi itu, dia harus menyamankan hati anaknya dan butuh waktu agak lama rupanya sampai anaknya diam dan merelakannya pergi bekerja. Makanya dia ketinggalan bis dan sekali lagi, dia memilih untuk naik taksi ketimbang menunggu kedatangan bis berikutnya. 

Meskipun terlambat bisa dimaklumi, namun Alma tak mau begitu. Dia selalu berusaha. Katanya, dia merasa tidak nyaman ketika harus membuat penjaga toko sebelum dia menunggu kedatangannya dengan resah. Katanya lagi, dia tidak mau merugikan bosnya. Padahal bosnya tidak begitu peduli dengan kesejahteraannya. 

Siangnya, Brian dengan santainya memasuki toko. Brian adalah penjaga toko, teman Alma. Meskipun terlambat datang, belum memakai seragam toko, masih menenteng tas, dia langsung mengambil kartu absen. Yang penting log-on dulu katanya. Bukannya buru-buru ganti baju, dia malah menengok ke sana dan kemari. Alma menyapanya, how are you Brian? Dengan santainya, dia menjawab, I am tired and hungry. Rupanya dia mencari-cari apa yang bisa dimakan di toko sebelum dia mulai bekerja. Alma hanya bisa menatapnya dengan senyuman simpul dan berusaha memakluminya. 

Alma bukannya bodoh. Dia hanya mencari waktu yang tepat untuk memberi saran perbaikan untuk Brian. Selain itu, dia paham prosedur kemana dan bagaimana mengajukan komplen. Karena keterlambatan Brian, Alma tidak bisa pulang kerja tepat waktu. Padahal di toko itu tidak ada gaji overtime. Selain itu, anaknya menunggu di rumah dengan tidak sabar. Kepada saya Alma mengatakan bahwa dunia ini hanya fana, tidak perlu membalas air tuba dengan air nila. Apalah artinya semua ini selain beribadah kepada Tuhan. Menjalankan pekerjaan sesuai prosedur adalah salah satu bentuk ibadah kepada-Nya. Selain melatih diri sendiri menjadi orang yang disiplin dalam segala hal. Jika dalam hal kecil saja tidak bisa disiplin, apalagi hal yang besar. Saya terdiam mendengar penjelasan Alma dan membenarkannya.

20 September 2012

Belajar dan Bekerja


Ini tulisan versi saya, karena saya tahu di sana-sana pasti banyak yang menulis tentang belajar dan bekerja. Saya sudah bertahun-tahun kuliah dan juga bekerja. Pada masa kuliah S1 dulu, saya bekerja sebagai tutor atau guru les. Murid saya hanya beberapa (6 atau 7 anak, lupa) tapi saya mengajar mereka sampai tahunan. Selain itu saya pernah bekerja di laboratorium komputer dan jualan kebaya. Jualan kebaya dari teman ke teman, semacam bisnis pribadi. Saya sendiri bos sekaligus salesnya. Mungkin tidak banyak yang percaya saya pernah menjadi sales :)
copas photo by googling

Pada masa S2, saya pernah bekerja sebagai customer service atau pelayan. Jangan dibayangkan pekerjaan ini cuma duduk di belakang konter untuk menerima konsumen, tapi juga ngurus order, stocktake, menerima komplen dan bersih-bersih workshop. Selain itu pernah menjadi team member di supermarket yang kerjaannya ngurusi display barang-barang jualannya. Pernah juga kerja jadi tutor, pencatat perkuliahan dan tukang foto kopi di kampus. Sewaktu S3 saya pernah bekerja sebagai pelayan toko cepat saji kemudian naik jabatan menjadi supervisor, barista (penyaji kopi), tutor, pengawas ujian di kampus, tukang administrasi dan juga konsultan membuat soal-soal matematika untuk international competition.

Dari sebanyak pekerjaan yang saya jalani, saya masih menerima predikat cum-laude ketika menyelesaikan S1, sekolah S2 dan S3 di luar negeri dengan beasiswa dan alhamdulillah semuanya dengan hasil yang memuaskan, termasuk selesai on-schedule dan publikasi. Yah, gak jelek-jelek amat kan :)

Mempunyai pekerjaan selagi masa kuliah tidaklah berita baru. Saya tidak menyebut berkerja selagi kuliah adalah pekerjaan sampingan, karena jika menjalani keduanya sebaiknya serius supaya hasilnya optimal. Sebutan sampingan memang kedengaran agak menyepelekan status, bagi saya. Jika pekerjaannya tidak fulltime (8 jam sehari, 5 hari seminggu) saya lebih cenderung menyebutnya pekerjaan paruh waktu atau parttime.

Bekerja memberikan beberapa manfaat. Yang jelas tentu saja manfaatnya adalah memberikan pendapatan berupa uang. Uang bisa untuk apa saja seperti membeli buku kuliah, melengkapi sumber belajar, rekreasi, donasi atau tabungan. Tambahan pendapatan ini dapat secara langsung bermanfaat untuk kemajuan kuliah dan tentu saja kenikmatan tersendiri ketika bisa merasa financially free selama berbelanja.

Selain itu, dengan bekerja kita bisa mengembangkan banyak keterampilan. Jenis keterampilannya tentu saja sesuai tempat kerja dan sejauh mana kita serius memanfaatkan waktu bekerja untuk mengasah keterampilan. Selama saya bekerja, saya mengamati ada beberapa teman kerja yang berkerja sekedar mendapatkan uang. Pokoknya sudah menghabiskan waktu untuk kerja dan kerja sekedarnya. Kalau saya employer, saya tidak puas dan tidak suka dengan pekerja yang seperti ini. Dan menurut saya, percuma membuang waktu capek-capek hanya untuk uang.

Padahal jika kita bekerja dengan tekun, selain bos senang, kita secara tidak langsung mengasah keterampilan. Contohnya, bekerja sebagai pelayan di restaurant cepat saji. Sebagai pelayan resto di luar negeri, secara gratis kita mengasah kemampuan komunikasi dalam bahasa inggris dengan banyak orang dari berbagai latar belakang budaya dalam konteks nyata. Sebagai pelayan, kita diminta untuk membuat konsumen merasa nyaman sekaligus up-sell sebanyak-banyaknya. Selama melakukan ini, kita bisa berlatih berbicara efektif dan memikat. Bisa juga melatih kesabaran dan berbicara logis, ketika ada konsumen sekonyong-konyong marah-marah dan komplain. Keterampilan mengorganisasikan produk, penjualan dan mempertahankan/meningkatkan profit juga bermanfaat. Ada juga ilmu mengenai makanan cepat saji (Food Handling and Safety), barista (seni menyajikan kopi), dan keselamatan di tempat kerja (Occupational and Health Safety) yang bisa diperoleh.

Namun, di tempat kerja juga bisa memberikan stress tersendiri. Kadang ada tekanan, kritik atau perubahan-perubahan di tempat kerja yang perlu kita adaptasi. Bisa juga terjadi harassment, bullying, dsb di tempat kerja yang bisa mempengaruhi mood setelah bekarja, yang secara langsung atau tidak mempengaruhi kuliah atau keluarga. Bagi saya, ini adalah latihan memanajemen stress. Dalam hidup saya, down side selalu ada dan hanya bisa diatasi. Hanya ada beberapa yang bisa dihindari. Saya mencoba menghindarinya, tapi kadang kita harus bersinggungan dengan orang-orang yang tidak bisa kita kontrol dan membuat hal-hal negatif. Mau tidak mau, keterampilan memahami dan mengatasinya yang perlu diasah. Perlu tahu prosedurnya jika harassment terjadi, perlu memahami diri sendiri bagaimana mengatasi mood yang terlalu (terlalu senang/sedih). Perlu juga memahami bagaimana menikmati masa-masa sedih. Saya yakin, tidak semua orang selalu happy dan selamanya happy. Tentu saja tidak mudah. Tapi kalau bisa melakukannya, ini adalah nilai lebih.

Ada satu lagi, yaitu kemampuan mengatur waktu, termasuk mengatur waktu tidur dan liburan. Selama bekerja dan juga kuliah, waktu tidur dan liburan menjadi terbatas. Padahal kita semua wajib untuk tidur dan liburan untuk memenuhi kesejahteraan biologis. Memaksimalkan yang terbatas perlu latihan tentunya, perlu ilmu. Ilmu itu bisa dipelajari.

Ketrampilan-keterampilan yang saya gambarkan di atas termasuk keterampilan yang transferable. Maksudnya, bisa digunakan di situasi yang baru. Ketrampilan ini bisa menjadi nilai tambah di kurikulum vitae dan bisa dipakai untuk melamar pekerjaan yang lebih menghasilkan. Jangan dilihat status pekerjaannya yang mungkin hanya sebagai pelayan, tapi lihatlah keterampilan yang dimiliki. Sebagai seorang dengan status dokter misalnya, kalau tidak mampu berkomunikasi, mengatasi ancaman di tempat kerja atau memanajemen waktu, tidak banyak kesuksesan yang bisa kita lihat. Ketrampilan ini tidak selalu diperoleh begitu saja selama kuliah. Perlu dicatat sekali lagi, keterampilan itu hanya diperoleh jika tekun belajar.

Akhir cerita, saya tidak memaksa atau menganjurkan teman-teman yang sedang kuliah untuk juga bekerja. Ini keputusan pribadi. Masih-masing mempunyai pertimbangan. Pertimbangan berdasarkan kebutuhan. Saya hanya tidak begitu setuju dengan pendapat bahwa bekerja dapat mengganggu kuliah. Memang sih dapat menganggu kuliah dan juga capek, jika tidak pandai mengatur semuanya. Tidak bekerja pun selama kuliah belum tentu menjanjikan hasil yang prima. So, it depends how tough you are.

19 September 2012

Ahnaf Membaca (umur 5 tahun)

Membaca bersama anak buat saya adalah kegiatan yang menyenangkan. Yang ga enak itu kalo pas capek banget tapi dia milih buku yang tebal dan ngeyel, persist, maunya baca buku itu. Suka dukanya selalu ada dan di situlah seninya.

Beberapa minggu yang lalu, Ahnaf membaca buku "Here is a carrot".


Ternyata sudah 2 tahun lamanya baru sempat menulis lagi tentang Ahnaf membaca. Perkembangannya sudah lumayan. Alhamdulillah.

Pertanyaan Anak

Dulu saya pernah membaca bahwa anak usia dini umumnya suka bertanya banyak hal. Waktu itu saya langsung percaya selain mudah dipahami bahwa anak sudah biasa selalu ingin tahu ini dan itu. Setelah saya punya anak sendiri, saya lebih percaya bahwa benar adanya keingintahuan anak memang luar biasa. Saya sering mendapatkan pertanyaan serius seperti, mengapa ada matahari, mengapa kita punya tulang, ada apa di dalam rambut, apa isi kepala, mengapa kita berfikir pakai otak, mengapa gajah hidungnya panjang sampai yang mengarah ke perbedaan jenis kelamin, kenapa mama punya nenen dan papa tidak... dan seterusnya tidak pernah habis.

Namun demikian saya senang mendengar dan meladeninya. Salah satu strategi yang saya gunakan ketika tidak tahu jawabannya adalah mengajak dia membaca buku untuk mencari tahu banyak hal, membuka kamus dijital untuk mencari apakah ada arti kata yang dia sebutkan atau mendengarkan bagaimana melafalkan kata yang benar, membuka google untuk mencari gambar-gambar atau sekedar bilang bahwa memang seperti itulah Allah mendesain pohon, hewan, dan sebagainya. Atau jika dia bertanya, mengapa mobil ini seperti ini tapi mobil itu seperti itu, saya jawab desainernya yang menentukan bentuk mobil, jika kamu mau, kamu bisa mendesain mobil sesuka kamu. Atau sekedar menjawab, mama pikir-pikir dulu, mengapa seperti itu ya... menurut kamu mengapa?

Dari melihat perkembangan anak, saya semakin ingin berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini. Ternyata sangat penting orang tua menyiapkan lingkungan yang mendukung kemampuan berfikir dan mengapresiasi segala sesuatu. Sifat keingintahuan anak bisa menjadi pertanda baik perkembangan anak, sehingga perlu difasilitasi. Jawaban pertanyaannya memang tidak selalu mudah, tapi bukannya tidak mungkin dijawab. Seandainya tidak bisaberkontribusi secara luas, paling tidak saya akan mengusahakan yang terbaik untuk anak-anak sendiri. Semoga ibu-ibu yang lain juga mendapatkan kemudahan untuk melakukannya. :-)

18 September 2012

Menjadi Cantik


Cincin yang sekarang saya pake mempunyai sejarah. Sebuah cinta yang tak terungkapkan namun selalu saya kenang.

Awal bulan ke-empat menjadi CPNS, saya menerima rapelan gaji yang jumlahnya menjadi cukup lumayan karena akumulasi 4 bulan gaji. Yang lebih berkesan, ini adalah gaji pertama saya, hard cold cash :). Berhari-hari saya memikirkan apa yang mau saya lakukan dengan uang itu. 

Akhirnya saya membeli handphone untuk Bapak (HP pertamanya, meskipun saya hanya sanggup beli secondand, merk Erics**, lipatan dengan antenna nongol). HP Bapak yang saya belikan  pertama  ini sudah dijual dan sampai sekarang dia sudah berganti HP 2x yang juga pemberian saya. Salah satunya HP pemberian seseorang untuk berterima kasih karena anaknya saya bantu. Sementara waktu itu saya masih senang dengan HP saya sendiri, jadi tidak saya tolak tapi saya berikan kepada Bapak :).

Saya juga membeli satu set perhiasan untuk Ibu. Katakan saja satu set meskipun hanya cincin dan tindik yang semodel serta gelang bangel yang berbeda model. Tadinya cincin ini bermata mutiara. Mutiara asli yang saya masih ingat betul, mbaknya yang jualan meyakinkan saya dengan membakarnya dan mutiara itu tidak hangus :).

Saya tahu pasti, Ibu senang memakai perhiasan. Ibu senang menerimanya meskipun memaksa saya sendiri yang memakai perhiasan itu. Waktu itu, saya tidak senang memakai ah cincin gelang atau tindik. Polos :D karena tidak juga ber-make-up. Saya menolak halus akhirnya beliau memakainya. Saya hanya bilang kalau saya pengen suatu saat nanti, jika pengen memakai cincin, saya pengen cincin yang bermata merah.

Selang beberapa waktu, mutiara di cincin itu hilang. Lepas entah di mana. Kami menyebutnya cincin mutiara yang hilang sambil bercanda. Saya tidak pernah tahu kapan Ibu mereparasi cincin itu, hanya tiba-tiba saya melihat di jari Ibu, cincin itu bermata merah. Saya membiarkan saja toh itu milik beliau.

Cincin inilah yang ada di foto itu. Saya sekarang memakai cincin itu. Ibu saya tahu bahwa karena saya tidak suka perhiasan, saya tidak akan membeli perhiasan, meskipun saya mampu. Sesungguhnya tidak pernah sebersitpun mengharapkan perhiasan ini kembali, saya membeli semuanya hanya untuk Ibu. Saya tidak memberikan Ibu dan Bapak saya gaji pertama saya dalam bentuk uang karena saya tahu, uang akan habis dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Dan mungkin Ibu tidak akan memakai perhiasan atau Bapak tidak akan punya HP seperti yang mereka inginkan waktu itu. 

Saya sekarang memakai cincin seperti saya impikan dulu, dan Ibu yang menyiapkannya untuk saya. Bapak mengembalikan semua perhiasan itu kepada saya setelah Ibu pergi. Bapak cerita kalau perhiasan itu sudah keluar masuk pegadaian untuk menambal sulam kebutuhan hidup. Katanya, sudah cukup saya membantu orang tua dan sudah saatnya memperhatikan diri saya sendiri. Seperti kata Ibu dulu, saya harus memperhatikan diri saya supaya selalu cantik. Dan perhiasan di mata beliau adalah cantik. Makanya, jangan heran jika saya sekarang sering memakai perhiasan karena saya ingin selalu mengenang Ibu di setiap detik. Ada lagi peninggalan Ibu yang special buat saya, bukan tanah yang luas atau warisan yang banyak. Benda ini dititipkan adik saya untuk diberikan ke saya, yaitu make-up. Iya, bedak, lipstick, krim wajah., dkk Bukan bendanya yang saya lihat, tapi pesan di balik benda itu.